Entah sejak kapan aku mulai menyukai tentang foto. Namun, aku mulai menyukai foto karena ia terlihat begitu hidup untuk mengabadikan sesuatu yang tidak akan terjadi dua kali dalam hidup. Dan kegemaranku ini semakin bertambah setelah aku masuk SMA.
Pagi itu sangat cerah, matahari muncul dengan sinarnya yang sederhana namun begitu menyenangkan. Udara yang masih terasa segar dengan hawanya yang dingin. Aku dengan ceria memasuki kelas yang yaaa sesak penuh keramaian namun menyenangkan.
"Hai, selamat pagi!", sapaku dengan wajah ceria seraya memasuki kelas.
"Selamat pagi!", sebagian anak dengan kompaknya menjawab.
Kebetulan hari itu aku sedang membawa kamera kesayanganku CANON EOS 600D. Aku memotret kegiatan anak-anak pagi itu, ada yang sedang bercanda, ada yang berebut mengerjakan PR. Semuanya terlihat sibuk, namun begitu hangat.
"Eh, jangan lupa ekskul hari ini ya, kebetulan banget kamu bawa kamera.", ucap Rara sambil menepuk bahuku. Hampir saja aku lupa kalau hari ini ada ekskul fotografi.
Sepulang sekolah ada sesuatu yang menarik perhatianku. Sepertinya ada orang yang hobinya sama denganku. Secara tidak sadar aku memerhatikannya. Lalu, secara tiba-tiba dia melihat ke arahku dan tersenyum, mau tak mau aku juga membalas senyumannya. Entah kenapa, rasanya deg-degan tak karuan, seperti ada kupu-kupu yang menggelitiki perutku. Kemudian ia berjalan mendekati arahku.
"Halo, maaf boleh tanya, kelas fotografi hari ini dimana ya?", tanyanya.
"Oh, sekarang di XI IPA 3 mas.", jawabku.
"Oke, makasi ya..", balasnya lagi seraya pergi.
Dan kau tau rasanya seperti apa, seperti ada pandangan pertama yang memikat hati sekali.
Kemudian aku mengikuti ekskul fotografi. Ternyata dia juga ada disana. Kelihatannya ia tidak tampak seperti anak SMA.
"O ya rek, kenalin ini sebenernya mentor ekskul kalian, tapi baru bisa masuk sekarang soalnya kemaren lagi sibuk kuliah. Ayo mas, kenalin ddiri ke adek-adeknya.", kata Mas Adi mentor ekskulku yang satunya.
"Maaf ya baru bisa muncul sekarang, he..he. Kenalin, namaku Ardhana Akbar. Panggil aja Mas Ardhan", kenalnya.
Setelah hari itu, setiap ekskul kami banyak berbincang-bincang mengenai foto. Dan aku banyak bertanya tentang pengalamannya dibidang foto. Aku sangat menyukai caranya untuk mmenjelaskan satu-persatu tentang pengalaman dan prestasinya dalam bidang foto.
....
Beberapa minggu kemudian, pada notif twitterku tertulis "@ArdhanAkbar followed you". Awalnya aku merasa biasa saja, ku follow back dia. Karena hari itu malam minggu, aku suka spamming di twitter menulis segala macam yang ingin aku tulis. Lalu, ada notif mention masuk rupanya.@AndraKirana Kiran ga pengen hunting2 lagi?
lalu kubalas,
@ArdhanAkbar lagi ga pengen mas, ga ada temen.
berlanjutlah percakapan di twitter itu hingga lama. Kemudian ada notif DM masuk. Ternyata juga dari orang yang sama.
@ArdhanAkbar: kamu ada line ran?
@AndraKirana : ada mas, kenapa?
@ArdhanAkbar : apa idnya?
@AndraKirana : Kiranara ehehehe
@ArdhanAkbar : kok ga nemu ya aku, minta nomermu aja deh.
@AndraKirana : 085345xxxxxx
@ArdhanAkbar : oke, makasih ya
@ArdhanAkbar : sama-sama mas.
Semenjak saat itu, aku menjadi semakin dekat entah kenapa. Mungkin wajar hanya hubungan seorang fotografer dan anak didiknya. Namun, semakin hari, ia mulai menunjukkan sikap yang tidak biasa. Lama-kelamaan aku juga mulai terbiasa dengannya. Semakin dekat, ia semakin hilang, aku juga semakin merasa kehilangan. Aku juga tak tau ini pertanda apa. Sepertinya aku mulai merasakan rasa yang tak biasa. Namun hanya kutahan semata. Menurutku rasa ini tak seharusnya ada.
Hari-hari pun berlalu, kami jarang bertemu maupun berhubungan lewat chatting atau sekedar saling sapa lewat twitter. Aku juga sudah mulai terbiasa dengan ketidakhadirannya itu. Meski ada sedikit rasa kesepian yang mungkin menyelimuti.
......
Sabtu malam, LED hp-ku menyala beserta dengan nada dering notifikasi WhatsApp. Lalu kulihat hpku, berharap itu adalah pesan darinya. Ternyata memang benar, aku sangat senang sekali, dia datang kembali. Namun sepertinya ia datang saat aku sudah terbiasa untuk tidak berhubungan dengannya.
A: Selamat malam, Kiran :)
K: Malam juga, Mas
A: Long time no chatting ya.. hehe
K: ya luamyan juga sih
A: Maaf ya belakangan ini sibuk
K: iya gapapa
Percakapan kami berjalan seterusnya setiap hari. Dia datang kembali, mengisi ruang kosong yang selama ini kurasakan. Sedikit melankolis, tapi ini memang kurasakan, ha..ha.
Tapi, aku mulai berfikir, aku dan dia tidak seharusnya mempunyai hubungan yang bisa dibilang lebih ini. Aku sadar aku siapa dan dia siapa. Lingkungan kami juga berbeda. Namun setiap percakapan yang kupunya dengannya membuatku merasa nyaman, bisa dibilang sangat klop.
......
Aku bangun dari tidur siangku, seperti biasa, hp adalah barang yang kulihat saat aku bangun. Ternyata ada pesan chat darinya. Dengan masih sedikit mengantuk aku membalas
A: halo Kiran, lagi apa?
K: baru bangun tidur nih mas, nyawaku belum penuh.
A: yang belum penuh nyawanya apa hatinya? :)
K: aduh, mas Ardhan ini apa sih.
A: gapapa kok, mau aku penuhin hatinya?
K: hmm.. apasih mas Ardhan
A: kok hmm, jawab dong. Mau dipenuhin sampe penuh kah? :)
K: .................................
Aku benar-benar sudah bangun memang dari tidur siang itu. Aku tak bisa menjawabnya. Lalu apa jawabannya?
Silvi
0 komentar:
Posting Komentar